Imran, Pertanian Modern Menuju Kabupaten Solok Lumbung Pangan

By Dinas Pertanian Kab. Solok 07 Mar 2022, 11:49:06 WIB Pertanian

Dinas Pertanian, Kabupaten Solok - Upaya Dinas Pertanian menjadikan Kabupaten Solok sebagai lumbung padi terus dilakukan. Salah satunya dengan merombak sistem pertanian lama menjadi modern. Perombakan akan dimulai dari sektor produksi hingga proses cek produksi.

Sebagai langkah awal, Kementan sudah menyiapkan pengembangan komoditas pertanian strategis menuju kabupaten Solok sebagai lumbung pangan. Meski demikian, upaya dan cita-cita ini membutuhkan berbagai instrumen baik secara kebijakan dan regulasi maupun riset, inovasi, dan kewirausahaan.

Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Imran Syahrial , menjelaskan secara perlahan jalan menuju kesana sudah dibuka melalui peningkatkan massa panen dan mengoptimalkanya menjadi lebih cepat dengan kekuatan sistem yang sudah ditransformasi atau sistem modern.

Baca Lainnya :

Nenurut Imran, pertanian modern jauh berbeda dengan pertanian tradisonal. Perbedaan itu terletak pada hasil produksi yang hanya 2 kali dalam setahun, sedangkan massa panennya hanya 1 kali dengan pengelolan yang masih menggunakan cara manual.

"Yang dikatakan pertanian modern adalah produksinya 6 ton, panennya 3 kali dalam setahun, menggunakan fulkanisasi, kemudian menggunakan manajemen modern dan koperasi di koorperasikan," katanya, Senin, 7 Maret 2022.

Imran mengatakan, rencana memodernisasi pertanian ini sudah dibawa ke rapat koordinasi Kabupaten Solok beberapa waktu lalu. Dia berharap, upaya ini menjadi ujung tombak dalam meningkatkan produktifitas serta kesejahteraan petani Kabupaten Solok.

"Melalui program ini nantinya sistem program pertanian akan dikelola dengan manajemen yang juga modern. Presentasi bagi hasilpun akan memberi porsi yang menguntungkan para petani," katanya.

Sementara itu, Kasi Pengolahan Pemasaran Hasil, M. Taufiq, SP.MP mengatakan, sistem rombakan ini diyakini mampu meningkatkan produktifitas petani hingga berlipat-lipat dari keuntungan biasanya. Dengan begitu, penentuan harga juga bisa langsung ditentukan oleh para petani.

"Semua ini 100 persen milik petani. Harga gabahnya milik petani 100 persen. kemudian dari gabah masuk ke prosesing ini ada keuntungan 49 persen, disini petani akan mendapat penghasilannya 6 kali lipat atau minimal 3 kali lipat 100 persen milik petani, " kata Taufiq. Redaksi




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment